Pria 19 tahun Ditangkap Gara-gara Jual Bir Korea Utara

Seseorang masyarakat China yang tinggal di Jepang disangka sudah melanggar undang-undang perdagangan luar negeri Jepang, sesudah tertangkap bawa satu botol bir dari Korea Utara.

Pria berumur 19 tahun yang tidak disebut namanya itu sudah didakwa sembunyikan sebotol bir Taedonggang di kopernya, sebelum naik pesawat dari Shanghai ke Lapangan terbang Saga, di Jepang selatan, pada Oktober kemarin.



Menurut dokumen yang diserahkan ke Kantor Jaksa Penuntut Umum Distrik Fukuoka, pria itu tidak memberikan laporan barang itu pada pihak berkuasa serta tidak berhasil memperoleh kesepakatan dari Kementerian Perdagangan untuk membawanya ke Jepang. Pria pengangguran yang tinggal di Fukuoka itu menjelaskan pada polisi jika dianya berpikir dapat jual bir itu pada harga tinggi.

"Saya fikir (bir Korea Utara) dapat di jual pada harga tinggi," katanya seperti diambil dari South China Morning Post, Kamis, 18 Juli 2019.

Jepang sendiri didapati menetapkan larangan pada semua barang import dari Korea Utara pada 2009. Ini adalah satu diantara sisi dari sangsi ekonomi sepihak yang dikerjakan atas penculikan masyarakat negara Jepang oleh Pyongyang. Sangsi itu diperketat sebab eksperimen nuklir serta peluncuran rudal selanjutnya yang dikerjakan oleh Korea Utara.

Pria itu menjelaskan pada polisi jika dia seringkali melancong dari Tiongkok serta Jepang, beli beberapa barang di Tiongkok yang mahal atau susah didapatkan di Jepang. Ia selanjutnya akan menjualnya dengan online dengan berulang-kali lipat dari harga yang ia beli.

Laganya ini pertama-tama didapati oleh Unit Cyber Kepolisin Prefektur Fukuoka, sesudah pria itu beli sebotol bir seharga Rp25 ribu, selanjutnya di jual Rp2 juta lewat situs lelang online.

Sudah pernah jadi penghasil uang penting buat Pyongyang, bir Taedonggang sudah membangun perusahaan di luar negeri, khususnya di China serta Korea Selatan, sebelum sangsi internasional hentikan pengiriman sah. Walau ada sangsi, bir ini masih ada di China.

Minuman ini memang sudah lama popular di golongan masyarakat Korea Utara, tetapi bir type uni itu sebetulnya datang dari Inggris. Pemerintah Korea Utara putuskan pada tahun 2000 untuk mulai menghasilkan bir berkualitas tinggi, tapi tidak mempunyai pengalaman untuk mengerjakannya. Jalan keluarnya dengan beli tempat pengerjaan bir asing.

Pyongyang beli sarana di Wiltshire, Inggris, yang awalnya dipunyai oleh Ushers of Trowbridge, pada harga Rp25 miliar. Pabrik ini diperlengkapi dengan penambahan tehnologi kontrol pengerjaan bir bikinan computer Jerman.

Pabrik itu membuahkan empat bir yang berlainan, terhitung bir coklat serta bir style pilsner yang sudah dilukiskan jadi bir yang mempunyai rasa manis serta dikit pahit. (nsa)